Kedua penafsiran dapat kita terima karena Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memang bangsa Arab namun beliau diutus
menjadi rahmat bagi seluruh alam, bukan Arab saja. Oleh karena itu,
sejak awal dakwah beliau, banyak orang non Arab yang menyambut seruan
beliau menyatakan diri masuk Islam. Seperti Bilal dari Ethiopia yang
berkulit hitam, Shuhaib dari Romawi yang berkulit putih dan Salman dari
Persia yang berkulit kuning.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengutus Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam yang berasal dari bangsa Arab dan dari jenis manusia
ini karena objek dakwah dan yang akan beliau pimpin adalah manusia,
sehingga beliau bisa memahami karakter umat yang dipimpinnya.
Apalagi beliau tinggal di tengah-tengah mereka sejak lahir
sehingga mereka dapat mengetahui perkembangan pribadi beliau yang lebih
mendalam. Hal ini mengisyaratkan bahwa pimpinan itu sebaiknya berasal
dari lingkungan umat yang dipimpin itu sendiri. Atau seandainya dari
luar, harus memahami kondisi umat tersebut dengan baik.
Selanjutnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerangkan bagaimana sikap dan
perilaku Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang diutus Allah
Subhanahu Wa Ta’ala dari kalangan mereka sendiri.
1. Merasa berat apa yang mereka susahkan
Menurut Bukhari-Muslim, beliau berpesan:
الصَّلاَةُ الصَّلاَةُ وَمَا مَلَكَتْ يَمِيْنُكَ، كَرَّرَ ذَلِكَ مِرَارًا
(Peliharalah shalat, peliharalah shalat, dan perhatikanlah budak-budakmu. Beliau mengucapkan pesan ini berkali-kali. – H.R. Bukhari Muslim).
Beliau selalu berusaha meringankan beban umatnya dan tidak mau diistimewakan diantara umatnya. Al-Zarqani dalam Syarh al-Mawahib
meriwayatkan bahwa pada suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam sedang dalam perjalanan bersama sahabatnya. Setelah waktu makan
tiba, para sahabat bermaksud hendak menyembelih kambing yang akan
dimakan bersama.
2. Sangat ingin akan kebaikan umatnya
Beliau sangat ingin dan berharap agar umatnya mendapat
kebaikan. Perhatiannya siang dan malam hanyalah bagaimana supaya umatnya
menjadi baik. Bagaimana supaya umatnya maju, bagaimana supaya umatnya
mendapat petunjuk sehingga dapat selamat di dunia dan di akhirat. Tidak
ada satu jalan pun yang dapat ditempuh asal membawa kebaikan umatnya,
pasti beliau melaluinya. Beliau bersabda:
مَا بِقَى شَيْئٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ (رواه الطبرانى)
(Tidak tersisa sesuatu pun yang mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah dijelaskan semuanya kepadamu. – H.R. Thabrani)
Di waktu wajah beliau terluka dalam Perang Uhud, gigi serinya
pecah ada yang berkata, “Alangkah baiknya tuan berdoa kepada Allah agar
musuh itu dibinasakan saja seluruhnya.” Beliau bersabda, “Aku ini
diutus bukan sebagai pengutuk tetapi aku diutus sebagai pengajak
kebaikan dan membawa rahmat. Ya Allah, ampunilah mereka, sebab mereka
belum mengetahui.”
3. Sangat belas kasih dan sayang
Rauf adalah belas kasihan khusus kepada yang lemah, miskin, melarat, sakit, gagal, anak yatim, para janda, dan sebagainya. Rahim lebih umum dari sifat rauf.
Kasih sayang yang meliputi dan merata kepada siapa saja, kepada yang
miskin dan kepada yang kaya, kepada yang gagal dan kepada yang berhasil,
kepada yang masih punya orang tua dan kepada anak yatim.
Ketika beliau sedang shalat berjamaah dan didengarnya tangis
seorang bayi, beliau persingkat shalatnya agar ibunya yang ikut shalat
di belakangnya tidak gelisah dan risau hatinya. Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam selalu mendengarkan dan memperhatikan semua pengaduan
walaupun ia seorang hamba sahaya, orang tua, janda, atau orang miskin.
Beliau selalu berhenti kalau ada yang menghentikannya, dijabat
tangan setiap orang yang bertemu dengannya dan tangannya tidak
dilepaskan sebelum orang itu melepaskannya. Beliau selalu meneliti dan
memperhatikan kondisi sahabat-sahabatnya. Dijenguknya yang sakit,
dilawatnya yang meninggal, didengarnya baik-baik kesulitan mereka dan
dirasakan bersama kebahagiaan dan penderitaan mereka.
Pada ayat selanjutnya (Q.S. At-Taubah [9]: 129), Allah
Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan, walaupun Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam memiliki sikap-sikap yang sangat baik seperti di atas,
namun masih ada orang yang berpaling dan tidak mau mengikuti ajarannya.
Menghadapi orang-orang yang demikian, Allah Subhanahu Wa Ta’ala
memerintahkan agar beliau tetap tabah dan mengembalikan semua
kepada-Nya.
Demikianlah sikap-sikap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam dalam memimpin umatnya yang perlu diteladani oleh setiap
muslim, terutama para ‘umara yang memimpin umat Islam sesudahnya.
Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Darda bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ حِيْنَ يُصْبِحُ وَحِيْنَ يَمْسِى
حَسْبِيَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ
الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ سَبْعَ مَرَّاتٍ كَفَاهُ اللهُ مِمَّا أَهَمَّهُ
مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْأَخِرَةِ (رواه أبو داود)
(Barangsiapa yang membaca HASBIYALLAHU LAA ILAHA ILLA HUWA
‘ALAIHI TAWAKALTU, WA HUWA RABBUL ‘ARSYIL ‘ADZIM pada pagi dan petang
tujuh kali, Allah akan mencukupkan atasnya apa yang membuatnya susah
dari urusan dunia dan akhirat. – H.R. Abu Dawud)
Bacaan sangat baik diamalkan oleh setiap Muslim terutama para
‘umara sehingga mereka tetap tenang menghadapi problematika yang muncul
di tengah-tengah makmumnya.
Selanjutnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengungkapkan bahwa para ‘umara adalah pengembala sebagaimana sabdanya:
فاللأمير الذى على الناس راعٍ وهو مسئول عن رعيته / متفق عليه.
(Amir yang memimpin manusia adalah pengembala dan akan diminta pertanggungjawaban atas gembalaannya. – H.R. Muttafaq ‘Alaih)
Secara lahiriyah pekerjaan penggembala tampak tidak
bergengsi, namun jika dihayati menggembala ternak mengandung nilai
kepemimpinan yang tinggi.
Pertama, penggembala merasa ternak yang digembalakan
adalah bukan miliknya sendiri tetapi milik tuannya maka dia pasti akan
diminta pertanggungjawaban oleh pemilik ternak tersebut.
Kedua, penggembala akan menyediakan dan mencarikan tempat gembalaan yang subur sehingga ternaknya terpenuhi kebutuhan makannya.
Ketiga, penggembala akan mengawasi agar ternaknya
selamat dari gangguan dan tidak tersesat serta terpisah dari
kelompoknya. Ternak yang tersesat dari kelompoknya akan terlunta-lunta
dan mudah diterkam oleh binatang buas.
Keempat, penggembala akan mengarahkan ternaknya ke
tempat gembalaan yang bukan larangan sehingga ternaknya dapat menikmati
rumput yang dimakan dengan tenang.
Kelima, penggembala akan memperlakukan gembalaannya secara adil sehingga gembalaannya akan terpenuhi hak-haknya secara proporsional.
Keenam, penggembala akan melindungi gembalaannya
dari berbagai hal yang membahayakan seperti wabah penyakit, serangan
dari binatang liar dan berbagai serangan lain dari luar.
Wallahu A’lam bis Shawwab
Sumber :
mirajnews.com
mirajnews.com
0 komentar:
Posting Komentar